Temuan Komisi E DPRA
Bangunan SMA Simeulue Barat Asal-asalan
Simeulue
BANDA ACEH - Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Aceh menemukan kondisi bangunan SMA1 di Simeulu Barat dikerjakan asal-asalan. Proyek yang sumber dananya dari Otsus APBA tidak bisa digunakan dan tiga dari enam lokal yang rusak parah paska gempa bumi.
Wakil Ketua Komisi E DPRA, Safwan Yusuf kepada Serambi, Sabtu (15/5) mengatakan, pihaknya sudah melihat secara dekat kondisi bangunan. Memang benar enam ruangan belajar yang dibangun sudah rusak parah dan ringan. Namun yang disesalkan ujar Safwan bukan karena bangunan rusak akibat gempa, tetapi ruangan yang dibangun asal jadi. Contoh ujar Safwan, tiang bangunan tidak kokoh karena tidak di pasang besi penyangga antara tiang bangunan dengan pondasi besinya tidak nyambung. Tentu saja akibat dari pekerjaan yang tidak beres bangunan runtuh. Ini bukan akibat gempa,tetapi kualitas bangunan yang sangat buruk. Banyak bangunan lain yang tidak runtuh meski di goyang gempa, ujarnya.
Hal lain yang sangat menjengkelkan ujar politisi dari partai demokrat ini, lantai ruangan belum disemen dan sudah tumbuh belukar. “Ini proyek abu nawas dan pekerjaan yang dilakukan sia-sia. Uang rakyat habis secara percuma tetapi bangunan tidak bisa digunakan,” ujarnnya.
Ditanya siapa kontraktor yang mengerjakan bangunan serta besaran dana, Safwan mengku mendapat laporan bahwa kontraktor berasal dari Banda Aceh dan persoalan bukan pada kontraktor tetapi yang menjadi masalah pekerjaan tidak memuaskan serta pengawasan tidak jalan. Selain itu dana yang digunakan Rp 400 juta dari APBA 2008 dan 2009 terbuang percuma. Seharusnya pengawasan bukan hanya dari provinsi tetapi dari daerah setempat harus dilibatkan secara penuh. Terhadap hal ini ujar Safwan,masyarakat setempat berharap agar hal ini diproses secara hukum.
Menurut Safwan Yusuf, kunjungan kerja komisi E ke Simeulue turut dihadiri oleh Ermiadi (ketua komisi E), Tgk Muharuddin, Tgk Nasruddin, Sidik Fahmi dan Liswani. “Kami ke sana karena ada usulan agar dibangun kembali SMA 1 Simeulu Barat yang rusak akibat gempa,” ujar Safwan.(swa)

Kantor Bupati Aceh Jaya Retak, SMA Simeulue Barat Rusak Berat
* Satkorlak PBP Aceh Lansir Data Kerusakan
Utama
CALANG - Gempa 7,2 SR yang mengguncang Aceh, Minggu (9/5) siang menimbulkan kerusakan fasilitas umum dan rumah penduduk di beberapa kawasan. Kantor Bupati Aceh Jaya di Calang berkonstruksi tiga lantai yang dibangun BRR NAD-Nias retak di beberapa bagian. Sedangkan menurut data sementara yang dikeluarkan Satkorlak PBP Aceh, ekses kerusakan yang relatif besar terjadi di Kabupaten Simeulue.
Data dari Posko Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Satkorlak PBP) Aceh yang dikeluarkan Minggu (9/5) malam merincikan laporan sementara kerusakan akibat gempa 7,2 SR yang mengguncang hampir seluruh wilayah Aceh, Minggu (9/5). Data sementara itu masih sebatas dari Kabupaten Simeulue.
Di Kecamatan Teluk Dalam meliputi tiga rumah rusak ringan, dua Sekolah Dasar (SD) rusak sedang, satu masjid rusak ringan, satu Balai Desa rusak ringan, satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) rusak ringan, dan beberapa bagian badan jalan retak.
Di Kecamatan Simeulue Barat, satu rumah ibadah rusak berat, satu Puskesmas rusak ringan, satu SMU Sibigo 6 ruang kelas baru (dana Provinsi 2008) yang belum selesai/siap roboh (pagar SMU tersebut juga roboh/Otsus Kabupaten 2009), aula kantor camat rusak ringan, dan dua tambatan perahu rusak berat. Di Kecamatan Salang, Kantor PPL rusak ringan, MTsN Desa Meunafa rusak ringan, masjid di Desa Ujung Salang rusak ringan, dan 10 tiang listrik miring.i Kecamatan Simeulue Timur, Pustu di Desa Sua-Sua retak, dan Pustu di Desa Batu-Batu retak.
Aceh Jaya
Data sementara dari Calang yang diterima Serambi menyebutkan, ekses gempa 7,2 SR yang terjadi pukul 12.59 WIB, Minggu (9/5) menyebabkan beberapa bagian dinding Kantor Bupati Aceh Jaya yang dibangun BRR NAD-Nias retak.
Informasi itu dibenarkan Kabag Humas Pemkab Aceh Jaya, Drs Mahdali. “Retak terlihat pada bagian dinding lantai pertama hingga lantai ketiga. Memang tidak parah, tetapi kewaspadaan perlu. Kami sudah laporkan ke pimpinan untuk dilakukan pemeriksaan apakah berbahaya atau tidak,” ujar Mahdali.
Menurut Mahdali, hingga sore kemarin belum ada laporan kerusakan lainnya maupun korban jiwa di Aceh Jaya. Namun ketika gempa mengguncang, terjadi kepanikan luar biasa dan masyarakat berlarian ke gunung untuk berjaga-jaga dari kemungkinan tsunami.
Lhokseumawe
Kerusakan akibat gempa juga dilaporkan terjadi di Kota Lhokseumawe. Bagian belakang bangunan kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Desa Meunasah Mesjid Cunda retak. Bahkan bila tidak cepat diperbaki, diperkirakan akan ambruk. “Saat gempa mengguncang, terdengar suara tembok retak yang membuat saya panik,” kata Amni, penjaga Kantor AJI Lhokseumawe.
Pidie
Dari Sigli dilaporkan, gempa 7,2 SR yang terjadi Minggu siang kemarin menyebabkan bantalan abudmen jembatan Krueng Tukah di Gampong Asan, Kecamatan Kota Sigli, Pidie yang berada di lintasan jalan nasional Banda Aceh-Medan bergeser (longgar) beberapa inci.
“Selama ini bantalan kepala jembatan (abudmen) masih rapat, tapi akibat gempa bantalan tersebut kini renggang beberapa inci,” kata Safwandi, seorang warga yang berjualan di ujung jembatan Krueng Tukah.
Aceh Besar
Di Kabupaten Aceh Besar, sejumlah rumah penduduk di Desa Blang Mee, Kecamatan Lhoong dilaporkan retak. Selain itu, satu tiang listrik di desa tersebut juga nyaris tumbang mengakibatkan mati lampu.
Seorang warga Lhoong, Armiadi AB melaporkan, setidaknya ada tiga rumah warga Blang Mee yang retak akibat gempa 7,2 SR pada Minggu siang kemarin. Salah satunya diketahui milik Husniah. “Hampir bersamaan dengan guncangan gempa, lampu mati karena satu tiang listrik di kawasan Desa Blang Mee nyaris tumbang,” kata Armiadi.
Aceh Barat
Di Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, tidak ada laporan kerusakan yang fatal, kecuali beberapa bangunan ruko di Jalan Teuku Umar rusak ringan akibat guncangan gempa 7,2 SR tersebut. Tingkat kerusakan dinilai tidak terlalu mencemaskan, karena pada bagian dinding lantai empat.
Nagan raya
Di Kabupaten Nagan Raya, hingga tadi malam juga tak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan serius akibat gempa 7,2 SR itu. Namun menurut Ketua Markas PMI Cabang Nagan Raya, Ardiansyah, dua rumah milik Syarifuddin, warga Jeuram, Kecamatan Seunagan, rusak.
Juga ada laporan yang menyebutkan kaca tower (menara) pengawas di Bandara Cut Nyak Dhien Nagan Raya pecah akibat guncangan gempa tersebut. Namun kerusakan tak mengakibatkan gangguan serius di bandara itu.
Hingga berita ini diturunkan tadi malam, tak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa di berbagai kabupaten/kota lainnya termasuk Banda Aceh. Di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, misalnya, seorang warga setempat melaporkan, rumah dan bangunan lainnya aman-aman saja. “Kalau panik memang ya,” ujar warga dari Blang Mancung tersebut. (riz/nas/c43/bah/c37/edi/min)
24 Februari 2010, 09:47
Pramuka Simeulue Bermuscab
Simeulue
SINABANG - Gerakan pramuka Kabupaten Simeulue, Senin (22/2) menggelar musyawarah cabang (Muscab) di Aula Dinas Kesehatan kabupaten setempat. Hadir pada acara itu pengurus pramuka Aceh Azhari Basyar dan unsur Muspida Kabupaten Simeulue. Azhari Basyar mengatakan, tahun ini undang-undang tentang pramuka akan disahkan sehingga ke depan akan lebih baik bila ada dukungun semua pihak.
Sementara itu, Bupati Simeulue Darmili menilai, kepramukaan sebuah wadah bagi generasi muda. Gerakan ini agar dijadikan momentum untuk pembinaan generasi muda dan diharapkan semua pihak peduli. Begitupun pada kesempatan itu Wakil Bupati Simeulue Drs Yunan T terpilih sebagai Ketua Umum Gerakan Pramuka Simeulue menggantikan almarhum Drs Ibnu Abban GT Ulma yang meninggal dunia pada tahun 2007.(*)
24 Februari 2010, 09:48
Dishut Bentuk Tim Pendataan Lahan
Simeulue
SINABANG - Dinas Kehutanan Kabupaten Simeulue membetuk tim pendataan lahan masyarakat di Kecamatan Teupah Barat, Kecamatan Simeulue Tengah dan Kecamatan Salang. Lahan sawah dan kebun yang didata seluas 5000 hektare sudah diberi tanda oleh dinas kehutanan. Kepala Dinas Kehutanan Simeulue Ir Ibnu Abbas kepada Serambi mengaku ada anggaran Rp 1,9 miliar yang telah disetujui DPRK Simeulue. Anggaran ini digunakan untuk pemasangan tapal batas ditiga kecamatan.
Pemasangan patok dilakukan bersama tim dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) wilayah I Medan, Sumatera Utara, katanya. Agar hal ini berjalan maksimal, pihaknya melakukan pertemuan selama empat jam dengan warga. Mereka menjelaskan bahwa lokasi tanah yang masuk dalam tapal batas kawasan hutan produksi tidak ragu. Pemerintah daerah ujar Ibnu Abbas tidak ada niat untuk merugikan masyarakat.
Keberatan
Terhadap persoalan ini tokoh masyarakat Simeulue Tengah Ahmad Sabil menjelaskan, tanah di daerahnya tidak akan diberikan untuk lahan pengganti PDKS. Kemudian Aliumar tokoh masyarakat Teupah Barat keberatan kepada Dinas Kehutanan yang mematok tanah kebun cengkehnya untuk dijadikan hutan lindung. Ia mohon agar lahannya tidak diambil sehingga tidak menimbulkan persoalan pada masa mendatang. Pendapat senada diutarakan oleh Johorman. Tokoh masyarakat Salang ini tidak akan memberikan lahan pada Pemkab untuk dijadikan hutan lindung.(*)
19 Februari 2010, 11:21
Universitas Simeulue Terima Mahasiswa Baru
Simeulue
SINABANG - Kabupaten Simeulue saat ini sedang merintis berdirinya sebuah perguruan tinggi yang kelak akan diberi nama Universitas Simeulue (Unsim). Perguruan tinggi swasta (PTS) itu akan dikelola oleh Yayasan Universitas Simeulue yang diketuai H Azharuddin Agur SPd. Azharuddin kepada Serambi, Kamis (18/2) di Sinabang, mengatakan, izin tentang pendirian universitas perdana di kabupaten pulau itu sedang dalam proses di Departemen Pendidikan Nasional.
Untuk tahap awal, kata Azhar, Unsim yang akan dibangun di daerah Linggi, Kecamatan Simeulue Timur, di atas lahan seluas 20 hektare (ha), akan membuka tiga fakultas, sesuai dengan syarat minimal untuk mendirikan universitas. Fakultas tersebut meliputi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Perikanan dan Kelautan, serta Fakultas Pertanian.
Menurut Azharuddin, pada tahun akademik 2010 ini akan dibuka pendaftaran bagi mahasiswa baru dengan perkirakan pendaftar mencapai 1.000 orang. Mereka yang kemungkinan mendaftar, adalah lulusan SMU dari delapan kecamatan di kabupaten itu yang tamat tahun ini. Selain itu juga alumni SMU yang telah menganggur pada tahun-tahun sebelumnya.
Azhar juga optimis, dengan dibukanya pendaftaran di Unsim tahun ini, banyak mahasiswa kelas jauh yang merasa khawatir dengan statusnya akan pindah ke Unsim, termasuk di antaranya mahasiswa yang kini berstatus PNS. Untuk PNS yang ingin kuliah lagi akan mudah pengurusan izin belajarnya, sehingga akan sangat membantu mereka dalam pengembangan kariernya ke depan.
Adapun susunan kepengurusan Yayasan Universitas Simeulue terdiri atas Rektor Drs H Darmili, Pembatu Rektor I (Drs Naskah bin Kamar), Pembantu Rektor II (Haili Samsuddin SE), Pembantu Rektor III (Drs H Riswan NS, MSc), dan Pembantu Rektor IV (Drs Zulkarnain MSi). Untuk jenjang fakultas, yaitu Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Idris K SPd, Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Ir Sukoco Erwan, dan Dekan Fakultas Pertanian I. Muliadinsyah.
Rektor Universitas Simeulue, Drs Darmili yang juga Bupati Simeulue menjelaskan, Universitas Simeulue adalah sebagai andalan utama masyarakat Simeulue demi peningkatan sumber daya manusia, supaya pulau simeulue ini memiliki sumber daya manusia yang sama dengan daerah lain di Indonesia.
Darmili mengatakan, Unsim didirikan dengan harapan bisameringankan beban ekonomi orang tua mahasiswa yang selama ini harus membiayai kuliah anaknya di luar daerah kepulauan itu. “Bayangkan kalau melanjutkan ke perguruan tinggi misalnya ke Banda Aceh atau ke Medan, berapa banyak biaya yang harus ditanggung oleh orang tua untuk kuliah anaknya,” ujar Darmili.
Ia menambahkan, perjalanan untuk mendirikan Uiversitas Simeulue tidak semudah membalikan telapak tangan. “Tapi dengan usaha dan doa kita seluruh masyarakat Simeulue, pemerintah pusat melalui Departemen Pendidikan Nasional membuka hatinya menandatangani izin untuk pendirian Yayasan Universitas Simeulue,” ungkap Darmili.
Ketua DPRK Simeulue mendukung sepenuhnya didirikannya Unsim ini. Ia berharap universitas ini dapat menjadi pelopor dalam pengembangan hal sumber daya manusia. Ia juga menegaskan pihak DPRK telah menyetujui anggaran untuk menyekolahkan 32 orang mahasiswa untuk program maste (S-2) dan 4 orang untuk program doktor (S-3).(*)
Awal 2009, Dinas Pendidikan Simeulue Terima Guru Kontrak Lokal
Sinabang | Harian Aceh—Awal 2009, Dinas Pendidikan Simeulue akan menerima guru kontrak local untuk memenuhi kekurangan guru di sana, terutama di sekolah-sekolah terpencil.
“Awal 2009, kita programkan untuk merekrut 425 guru kontrak lokal yang diutamakan lulusan Sarjana Pendidikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Simeuleu, Drs Naska Bin Kamar, kepada Harian Aceh,Jumat (13/12).
Penerimaan guru tersebut, katanya, sesuai Qanun No. 3/2008 yang baru disahkan oleh DPRK bulan lalu. Direncanakan honor guru kontrak tersebut dibebankan kepada APBD Kabupaten Simeulue. “Kehadiran guru kontrak tersebut bisa membantu 1.270 guru yang sudah ada saat ini,” tandas Naska.
Perekrutan 425 tenaga guru kontrak lokal untuk sekolah-sekolah terpencil yang terdiri dari sarjana pendidikan lulusan S I dan PGSD-PGMI tersebut. Dirincikan upah atau honornya setiap bulan untuk guru SMA/SMP/sederajat Rp1,5 juta/bulan, sedangkan untuk SD/MI/sederajat Rp1 juta/bulan.
Pun begitu, gaji atau upah guru kontrak lokal tersebut, diyakini tidak akan tertampung pada APBD Simeulue. Karena itu, perekrutannya dilakukan bertahap dan sesuai keuangan APBD Simeulue. “Kita sangat mendukung apa yang diprogramkan oleh Dinas Pendidikan, namun kita harus juga mengacu dana APBD yang tersedia di Simeulue, dan perekrutannya pun kalau bisa bertahap artinya jangan sampai kita salah langkah lagi ke depan,” jelas Sekda Drs Mohd Riswan R, kepada Harian Aceh, Sabtu (13/12).
Jumlah kebutuhan guru untuk tingkat SMA/SMP/sederajat dari lulusan SI sebanyak 275 orang, lulusan PGSD/PGMI (150 orang). Mereka akan disebar untuk 23 SMA sederajat, 45 SMP sederajat serta 122 SD sederajat di delapan Kecamatan dalam Kabupaten Simeulue.(ahm)
Forum Guru PRB Kabupaten Simeulue Terbentuk
Forum Guru PRB Kabupaten Simeulue Terbentuk Forum Guru PRB (Pengurangan Resiko Bencana Kabupaten Simeulue) yang diprakasai oleh 12 sekolah (SMAN 1 Salang, SMPN 2 Sim Tim, MTsS Teupah Barat Inor. MTsN Kp Aie. SMAN 1 Teupah Selatan, MAS Alus-Alus, SMPN 2 TepBar Laayon, MTSsN SInabang, SMAN 2 Salang, dan SMAN 2 Sim Tim) ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue Nomor : 424/2732/2009, tertanggal 11 November 2009,
Terbentuknya forum guru ini berawal dari hasil kesepakatan dan musyawarah guru-guru 12 sekolah dampingan Yayasan Pusaka Indonesia pada kegiatan workshop pembentukan Forum Guru PRB (Pengurangan Resiko Bencana) Kabuapten Simeulue tanggal 15 Oktober 2009 bekerjasama dengan CORDAID. Deputi Badan Pengurus Pusaka Indonesia Drs. Prawoto mengatakan terbentuknya forum guru menunjukan bahwa pemerintah dalam hal ini Dinas pendidikan Simeulue telah berupaya mengintegrasikan program Pengurangan Resiko Bencana masuk ke ranah sistem pendidikan sekolah dan sudah mengacu kepada kebijakan kebijakan nasional sebut saja UU No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan, UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana dan Paraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, hal perlu disambut baik dan menjadi contoh bagi Dinas Pendidikan di daerah lain yang ada di Indonesia khususnya di daerah yang rawan akan terjadi bencana alam. Ditambahkannya Forum Guru ini nantinya akan dapat memasukan materi-materi kebencanaan kepada anak didik saat proses belajar mengajar, ujar Prawoto yang akrab dipanggil Prass
Secara terpisah Koordinator Program Pengurangan Resiko Bencana Yayasan Pusaka Indonesia Fatwa Fadillah mengatakan Forum Guru ini nantinya akan melakukan sosialisasi PRB tidak hanya kepada siswa tetapi juga kepada masyarakat hal ini sangatlah penting untuk menciptakan upaya membangun budaya hidup yang aman serta terciptanya kondisi masyarakat yang tangguh di masa depan dalam menghadapi bencana. Forum guru ini juga berfungsi sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antar sekolah untuk meningkatkan SDM baik ditingkatan guru dan murid itu sendir , katanya
Drs. Irman Yasil selaku ketua umun Forum Guru PRB Kabupaten Simeulue menyatakan bahwa dia dan segenap jajarannya yang ia pimpin siap menjalankan program pendidikan PRB di diseluruh sekolah yang ada di Kab. Simeulue.
